Tuesday, December 8, 2009

Haji dan Kesatuan Umat


Risalah dari Muhammad Mahdi Akif, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, 20-11-2009


Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah saw, keluarganya dan sahabat dan orang-orang yang mendukungnya ..Adapun selanjutnya.

Pada saat ini, seluruh hati umat Islam dari segala penjuru dunia tertuju ke Baitullah, sebagai bukti dikabulkannya doa nabi Ibarahim oleh Allah ; ketika beliau berkata:

“Maka jadikanlah hati-hati umat manusia cenderung kepadanya -baitullah-“ (Ibrahim: 37),


dan janji Allah masih menjadi kenyataan, sebagaimana hati-hati manusia masih condong ke Baitullah; menghadirkan ratusan ribu manusia yang berasal dari berbagai penjuru dunia yang sangat jauh, menuju Baitullah, tinggal dan hidup dibawah naungannya. Belajar dari perjalanan ibadah haji ini akan dapat kita menemui berbagai pelajaran dan pengajaran, diantaranya adalah sebagai berikut:


Haji; penerapan prinsip persamaan:


Pada saat ini umat Islam bertemu dan berkumpul dalam satu tempat, satu kata, satu tujuan dan satu arah; sekalipun mereka berbeza bangsa, etnik, bahasa dan warna


“Untuk menyaksikan manfaat bagi mereka dan menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas apa yang dianugerahkan kepada mereka berupa binatang ternak” (Al-Hajj:28)


Jelas adanya persamaan tingkat tinggi dalam proses pelaksanaan ibadah haji tersebut, semua orang mengenakan pakaian sederhana yang tidak menampakkan kebanggaan dan kemewahan , sebagaimana semua orang melakukan tawaf di Baitul Haram,


“yang Kami telah menjadikannya untuk seluruh umat baik yang jauh ataupun yang dekat” (Al-Hajj: 25),


Semua orang juga melaungkan satu seruan yang di dalamnya tidak ada unsur asabiyah dan tidak ada ruang untuk fanatisme


لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ

“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, Aku penuhi, Aku penuhi tidak ada sekutu bagi-Mu Aku penuhi”,

Sebagaimana semua orang melakukan wukuf di Arafah dalam satu kondisi, waktu dan tempat, tidak ada perbezaan di antara mereka kecuali ketakwaan dan pengabdian yang tulus; sehingga leburlah perbezaan taraf, menghapuskan perpecahan, dan menyatukan persamaan yang kokoh dan kejujuran yang murni dari segala konspirasi dan tipudaya, persamaan dan kesetaraan yang selama ini telah pudar di era modernisasi, dan telah hilang di dunia yang berperadaban palsu ini.


Setelah itu semua orang pergi meninggalkan Arafah, menuju salah satu masy’aril haram (tempat yang disucikan) iaitu Muzdalifah, setelah Islam berhasil menghapus keistimewaan yang memberikan Quraisy memiliki kedudukan tertinggi; untuk menegaskan akan persamaan semua elemen masyarakat, di mana ketika itu


“Quraisy dan orang menganut agama yang sama dengannya melakukan wukuf di Muzdalifah, mereka menyebutnya dengan Al-Humus, sementara itu seluruh warga Arab melakukan wukuf di Arafat, dan ketika Islam datang Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya saw untuk datang ke Arafat, kemudian wukuf di dalamnya, lalu pergi meninggalkannya. Itulah yang difirmankan Allah: “Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (’Arafah)” (Al-Baqarah:199) (Muttafaq alaih).


Kemudian pada ketika haji Wada’ Nabi saw berdiri mengumumkan prinsip kemanusiaan yang universal ini: “Sesungguhnya Allah SWT berfirman:

”Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (Al-Hujurat:13)

“tidak ada kelebihan Orang Arab atas orang bukan Arab, atau untuk orang bukan Arab atas orang Arab, bahkan orang warna kulit hitam atas orang putih, dan orang putih atas hitam kecuali takwa (Ath-Thabrani).

Begitupun nabi saw bersabda setelah berhasil menakluki kota Mekkah:
“Wahai manusia, ketahuilah bahwa Allah telah menghapus dari kalian Obaiya (iaitu merasa besar dan sombong) yang ada pada zaman jahiliyah, dan merasa besar kerana orang tuanya, karena manusia itu ada dua model: seseorang bertaqwa, baik dan dermawan di hadapan Allah, dan seorang lagi yang jahat, celaka dan hina di hadapan Allah, dan manusia seluruhnya adalah dari Adam, dan Adam diciptakan dari tanah”. (Tirmidzi).

Oleh kerana itu, sudah masanya umat Islam di seluruh dunia; untuk mempelajari persamaan dari amalan keagamaan yang mulia ini dan berbagai syiar (doktrin) agama yang lurus ini sebagai alternative dari slogan-slogan kosong yang disenandungkan oleh umat bukan Islam melalui lisan mereka, dan bahkan diperundangkan dalam berbagai perjanjian dan perundingan, walaupun setiap pagi dan petang mereka menginjak-injaknya dengan kaki mereka, dengan kekuasaan dan kekuatan mereka, sebagaimana mereka juga melakukan penghinaan terhadap bangsa lain.


Haji adalah muktamar kesatuan umat:


Pada hari-hari ini, para jemaah haji ke Baitullah al-Haram yang berasal dari berbagai tempat yang jauh, dengan ragam berbeza bahasa dan warna, berada tempat-tempat suci dan bersih, melupakan perbezaan politik di antara mereka, tidak ada yang menggerakkan mereka kecuali kekuatan iman dan taqwa, yang diimplementasikan dalam lubuk hati dan jiwa; menggerakkannya menuju kesatuan manusia nan Agung, lepas dari kecenderungan fanatisme perkauman, warna kulit, atau kelompok, dan memperingatkan akan dirinya dari menurut dan mengikuti keinginan musuh-musuhnya dalam rangka memecah belah dan menceraiberaikannya


“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman”. (Ali Imran: 100),

Dan berkumandang dengan penuh kesyahduan dan kesempurnaan
”dan berpegang teguhlah pada tali agama Allah dan jangan bercerai berai” (Ali Imran:103),

Selain itu, pertemuan bermusim ini juga merupakan simbol bersatunya kekuatan umat Islam; dari yang awam hingga para ulama, dari orang-orang biasa hingga para pemerintah, dari orang yang lemah hingga yang kuat, dari yang kaya hingga yang miskin; mereka semua berkumpul dalam satu tempat; untuk memahami bahawa umat yang hak adalah satu kesatuan, harus diintegrasikan kekuatannya, harus bertemu dan bersatu kekayaan dari orang-orang yang kaya, kekuatan dari orang-orang kuat, kecerdasan dari para ulama dan hikmah dari para cendikiawan; untuk mencapai kesatuan yang diidam-idamkan.


“Bahawa umat ini dalah umat yang satu” (Al-Anbiya:92).

Betapa besar makna ibadah tawaf, yang membuat seluruh elemen berputar dalam satu penjuru, dengan seluruh perasaannya, sehingga menimbulkan perasaan kasih sayang, teguh pada satu tujuan dan satu misi, belajar melakukan kerjasama dan penyangkalan diri, dan menerima pelajaran praktis dalam hal kasih sayang dan persatuan.

Katakan kepada saya kepada Tuhan-mu .. Apa yang anda rasakan bila melihat ratusan ribu jemaah – dari berbagai bangsa dan bahasa yang berbeza – berjalan di baris yang sama dan menuju, satu arah dan satu tujuan, di tengah gemuruh Talbiyah, dan zikir dengan suara yang nyaring, dan pada saat muazin mengumandangkan azan mereka mendengarnya lalu menjawab panggilan azan tersebut, lalu semua orang seakan di atas kepala mereka ada burung, tidak terdengar sedikitpun suara kecuali bisik-bisik, Anda tidak akan melihat hal tersebut kecuali tubuh yang terstruktur rapi, kaki-kaki yang tegak tersusun rapi, jika imam berlutut (ruku’) merekapun ikut berlutut (ruku’), dan jika imam sujud mereka ikut sujud, dan jika imam membaca ayat dengan syahdu dan khusyu,mereka mendengarkannya kemudian jika imam berdoa mereka ikut mengaminkannya.


Ini adalah salah amalan yang indah, baik dan suci (agung), dan merupakan salah peristiwa yang begitu sempurna; duniapun menyaksikan pemandangan nan indah dan harmonis, sebagaimana seluruh dunia menyaksikan bahawa Islam adalah agama kesatuan dan peradaban, dan merupakan agama kehidupan.


Umat hari ini, pada saat mengalami penindasan di rumah mereka sendiri, dan dikelilingi oleh berbagai konspirasi dan tipu daya dalam segala aspeknya; selayaknya mereka mengambil pelajaran akan pentingnya kesatuan dan menyedari bahawa tiang yang menjadi pasak kekuatan kesatuan ini adalah agama yang dengannya akan menggapai kehormatan, begitu juga aqidah yang menjadi sumber kekuatan, dan mendengarkan seruan nabinya saw:

“Janganlah kalian saling benci, jangan saling dengki, dan jangan saling membelakangi (bermusuhan), namun jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara “ (Muttafaqun ‘alaihi),

Begitu juga memperhatikan simbol kesatuannya dan slogan kekuatannya; berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya

“Aku telah wariskan kepada kalian dua hal tidak akan tersesat ketika kalian mematuhinya: Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya “(Muwattha’ Malik).
Oleh kerana itu apakah para pemimpin bangsa, para cendekiawan dan ulamanya hanya akan menunggu hadirnya Muktamar Islam Tahunan ini untuk dapat bekerja secara tersusun, menghilangkan konflik, menyatukan barisan dan berdiri untuk melawan musuh yang selalu mengintai?

Kesucian Darah Muslim:


Pada saat pelaksanaan haji Wada’ Pemimpin Besar dan Nabi Muhammad bin Abdullah saw yang mulia berdiri di hadapan umat; menyampaikan khutbah yang sangat bermakna yang ada di muka bumi ini, dan bahkan sebagai ucapan yang kekal dalam lembaran sejarah umat manusia, serta sebagai undang-undang yang paling indah dan adil yang pernah ada dalam sejarah kehidupan dunia; di dalamnya terdapat simbol untuk manusia menuju jalan keselamatan, dan jalan menuju kemuliaan, serta jalur menuju kebahagiaan dan kekuatan, bahkan duniapun mengakui bahwa hal tersebut merupakan undang-undang yang terpercaya dan murni, di dalamnya tersebut kebaikan masyarakat, kemuliaan manusia, Allah berfirman:


”Hari ini telah Aku sempurnakan agamamu dan aku integrasikan nikmat-Ku kepadamu dan Aku ridhai Islam sebagai agamamu” (Al-Maidah:3).


Salah satu inti yang sangat ditekankan oleh Nabi saw adalah kesucian darah.

“Beliau telah menyampaikan khutbahnya dihadapan umat Islam pada hari Qurban: “Wahai manusia, hari apa ini?”. Mereka berkata: “Hari yang suci. Dia berkata: “Negeri apa ini?”. Mereka berkata: “Tanah Suci. Dia berkata: “Bulan apa ini?”. Mereka berkata: “Bulan Suci. Dia berkata: “Ketahuilah bahwa darah kalian, kekayaan kalian dan kehormatan kalian adalah suci atas kalian, suci seperti hari ini, di tempat ini dan pada bulan ini.” Beliau mengulangnya berulang kali, dan kemudian mengangkat kepalanya dan berkata: “Ya Allah, aku telah menyampaikannya. “Ya Allah, aku telah menyampaikannya. Ibnu Abbas ra berkata: sungguh demi jiwaku yang ada digenggaman-Nya; itu merupakan wasiat kepada umatnya: maka hendaknya yang hadir pada saat itu menyampaikannya kepada orang yang tidak hadir, Janganlah kalian kembali kufur setelahku, diantara kalian saling memukul leher sebagian dari kalian” (Bukhari).

Dan Nabi saw juga menolak berbagai kebiasaan jahiliyah dalam melakukan kekerasan atau membalas pertumpahan darah dengan berbagai macam cara, dan beliau memulai dengan darah keluarganya, beliau bersabda pada saat khutbah Arafah:


“Sesungguhnya darah, kekayaan kalian adalah haram sebagaimana haramnya hari ini, dalam bulan ini, dan tempat ini, ketahuilah bahwa segala tradisi dan kebiasaan jahiliyah dibawah kakiku ini adalah palsu, darah jahiliyah adalah palsu, dan bahwasanya yang pertama-tama aku katakan darah palsu adalah darah kami; darah Ibnu Rabiah bin al-Harits, adalah yang diasuh oleh Bani Saad, lalu dibunuh oleh Hudzail” (Muslim).


Nabi saw juga menyatakan bahawa iblis selalu mengobarkan api perang di tengah anak-anak bangsa, beliau bersabda:


“Para syaitan telah putus asa untuk menjerumuskan orang-orang yang salat di Jazirah Arab untuk menyembahnya, namun mereka akan selalu mengobarkan api perang di tengah mereka” (Muslim).


Bukankah yang terjadi di bulan suci saat ini pada negara-negara Arab dan negara Islam berbagai peperangan dan pertikaian, didorong oleh syaitan dari timur dan barat, dan diiringi oleh pihak yang memasarkan senjata dan peralatan perang; adalah bahagian dari kerja syaitan yang sejak awal telah diperingatkan oleh Nabi saw?


Oleh kerana itu wahai para cendikiawan bangsa, wahai para pemimpin umat, wahai para ulama, Marilah kita bersatu bekerja keras bersama untuk menghentikan pertumpahan darah di tubuh umat Islam; Yaman, Iraq, Somalia, Pakistan, Afghanistan dan Sudan, dan semua kawasan tegang di negara Islam; menghentikan darah umat Islam yang tumpah bukan pada tempatnya, dan bagi melaksanakan wasiat Nabi saw yang berkata:


“Sungguh kehancuran dunia lebih mudah bagi Allah daripada kematian seorang muslim” (Tirmidzi).


Bukankah menghairankan bahawa orang-orang Arab dan sebahagian umat Islam menadahkan tangannya untuk melakukan perdamaian dan perundingan dengan musuh umat yang menjajah negara mereka sendiri, membunuh orang-orang yang tidak bersalah dan berdosa di Palestine dan di tempat lainnya, dan pada saat yang sama menahan diri dari melakukan kesepakatan dan kerja sama dengan rakyatnya sendiri dan bahagian dari negara mereka sendiri, dan mereka tidak mengetahui cara untuk menyelesaikan masalah-masalah negara mereka kecuali dengan kekuatan perang dan senjata yang dibeli oleh tentara bangsa untuk memberikan perlindungan kepada tanah air, bukan untuk menyelesaikan krisis dalaman semata?!


Bukankah yang paling mengejutkan lagi dibolehkannya masuk senjata dalam segala bentuknya kepada pihak-pihak musuh ke jantung negeri sendiri, dan pada masa yang sama orang-orang Arab dan umat Islam bersekongkol dengan penganas Zionis untuk mencegah senjata dari pasukan pejuang?!

Tidakkah ini menimbulkan pemberontakan dan kegundahan di hati para pemimpin bangsa dan pemilik kebijakan, sehingga mahu begerak memperbaiki ketidakseimbangan ini, dan memperbaiki penyimpangan ini?!


Al-Quds dan Al-Aqsa di jantung setiap umat Islam:


Bahawa tempat-tempat suci di Mekah dan Madinah mengingatkan kita tentang tempat dan negara yang diberkati Allah dan sekitarnya; Al-Quds yang saat itu mengadu kepada Tuhannya akan kezaliman yang dilakukan oleh Yahudi, dan ketidakmampuan umat Islam yang terhina, disaat warganya hidup di bawah cambuk penindasan, rasa takut dan pengusiran, perampasan serta penghancuran rumah secara membabi buta.


Bahawa tawaf di Baitullah yang mulia dan suci mengingatkan kita tentang masjid suci ; Masjid Aqsa yang saat ini sedang terpenjara, padahal Al-Quds dan Al-Aqsa memiliki tempat yang mulia di hati setiap muslim; Sementara ketidakmampuan pemerintah Arab dan Islam untuk bersikap tegas dalam menghadapi kejahatan Zionis yang berusaha menyahudikan Al-Quds dan menghancurkannya; padahal sejumlah anak bangsa dari Al-Aqsa yang tetap berpegang teguh melakukan perjuangan dan mengorbankan ruh dan jiwa mereka, merekalah yang semestinya didukung dan berdiri di belakang mereka untuk memberikan sokongan dan memperkuat posisi mereka; sampai Allah menuliskan untuk mereka kemenangan, dan demi kemerdekaan dan kebebasan negeri dan bumi Al-Aqsa kita.


Saya menyeru kepada setiap Muslim di hari yang penuh berkah ini, terutama para jemaah haji untuk berdoa kepada Allah dengan penuh ketulusan, kerendahan hati dan kekhusyu’kan agar Allah berkenan melepaskan ikatan yang membelenggu negeri kita yang penuh berkah; bagi mengikuti dua tempat suci lainnya Mekah dan Madinah, dan memberikan kepada warganya dan mereka yang tetap berjuang tetap berada pada lindungan cahaya Islam yang suci, melindungi dirinya dan keluarganya serta memberikan keteguhan kepada para Mujahidin, mempertautkan dan memperkokoh hati mereka sehingga kemenangan yang telah dijanjikan dapat mereka raih, insya Allah, dan semoga Allah melindungi Masjid Al Aqsha dari belenggu penjahat Zionis, dan mengikuti dua tempat suci lainnya Masjidil Haram dan Mesjid Nabi dalam keamanan, keselamatan dan kedamaian.


Semoga sepanjang tahun umat Islam adalam keadaan baik-baik saja.

Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik Allah.

Selawat dan salam kepada nabi Muhammad dan keluarganya serta para sahabatnya.

________________________________________

Artikel Asal: http://www.al-ikhwan.net/haji-dan-kesatuan-umat-3316/

Thursday, December 3, 2009

Perspektif Ats-Tsiqah Yang Perlu diMiliki Oleh Setiap Ikhwah

Perspektif Ats-Tsiqah Yang Perlu diMiliki Oleh Setiap Ikhwah

Min Kutubil Ikhwan

18/6/2009 | 24 Jumada al-Thanni 1430 H | 1,726 views

Oleh: Muhamad Abdul Halim Hamid

Artikel asal: http://www.al-ikhwan.net/perspektif-ats-tsiqah-yang-diinginkan-atas-setiap-ikhwah-2782



Imam Syahid berkata: “Yang saya maksud dengan tsiqah adalah rasa puasnya seorang prajurit atas komandannya dalam hal kemampuan dan keikhlasan; dengan kepuasan mendalam yang dapat menumbuhkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan dan ketaatan”. Allah SWT berfirman:

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (An Nisa:65)

Pemimpin adalah sebahagian dari dakwah. Tiada dakwah tanpa kepemimpinan. Sikap saling mempercayai antara pemimpin dan yang dipimpin, menjadi kayu ukur yang menentukan kekuatan sistem jamaah, kemantapan gerak langkah, kejayaan mencapai tujuan serta kemampuan mengatasi pelbagai rintangan yang menghalang..

“Maka lebih utama bagi mereka ketaatan dan perkataan yang baik” (Muhammad: 21).

Kepemimpinan –dalam dakwah Ikhwan—memiliki hak sebagaimana hak orang tua dalam hubungan batin; hak seorang guru dalam penyampaian ilmu; hak seorang syeikh dalam pendidikan rohani; dan hak pemimpin dalam menentukan percaturan politik secara umum bagi dakwah. Dakwah kita menghimpunkan nilai-nilai tersebut secara keseluruhan.

Musuh-musuh Islam menyedari bahawa Islam adalah musuh terbesar. Sejarah masa silam dan realiti masa kini telah membuktikan kepada mereka bahawa apabila umat kita telah menemui jalan kebenaran menuju Islam, maka kekuasaan musuh akan terancam runtuh dan lenyap. Pihak musuh tidak takut kepada Islam yang “lunak” yang tidak memiliki kekuatan, tetapi mereka takut kepada Islam dalam bentuk gerakan jihad yang menggabungkan seluruh kekuatan kaum muslimin dan menyatukan barisan mereka untuk menghadapi musuh.

Wahai Ikhwan, oleh kerana dakwah kita bertunjangkan kepada kekuatan aqidah dan pergerakannya secara besar-besaran adalah untuk melawan musuh-musuh Islam dan menggagalkan perancangan mereka, maka sudah tentulah amat wajar jikalau pihak musuh sentiasa berusaha mengerahkan segala senjata dan kemampuan untuk menghadapi dakwah kita. Bahkan setiap inci ruang dan peluang akan mereka manfaatkan untuk memerangi dan menghancur leburkan dakwah kita.

Tektik paling merbahaya dan licik yang digunakan oleh pihak musuh ialah dengan menimbulkan ‘perpecahan dalaman’ di dalam dakwah, sehingga memungkinkan mereka memenangi pertarungan kerana kekuatan dakwah kita akan menjadi lemah akibat perpecahan yang berlaku. Unsur yang paling efektif bagi menimbulkan perpecahan dalaman dalam dakwah adalah hilangnya tsiqah (kepercayaan) antara ahli dan pihak pimpinan. Kerana apabila ahli telah tidak memiliki kepercayaan kepada pimpinannya, bermakna ketaatan akan tercabut dari dalam jiwa mereka. Bila ketaatan telah hilang, maka tidak mungkin akan wujud kepemimpinan dan kesannya tidak mungkin jamaah akan dapat wujud.

Oleh karena itulah, Imam Syahid menekankan rukun tsiqah dalam “risalah ta’lim” dan menjadikannya sebagai salah satu rukun baiah. Ia menjelaskan perlunya rukun ini dalam menjaga keutuhan dan kesatuan jamaah. Ia mengatakan: “…Tiada dakwah tanpa kepemimpinan. Sikap saling mempercayai antara pemimpin dan yang dipimpin, menjadi penentu kekuatan sistem jamaah, kemantapan gerak langkah, kejayaan mencapai tujuan serta kemampuan mengatasi pelbagai rintangan yang menghalang..

“Maka lebih utama bagi mereka ketaatan dan perkataan yang baik” (Muhammad: 21).

…”Dan tsiqah terhadap pemimpin merupakan segala-galanya bagi kejayaan dakwah”

Bukanlah menjadi syarat bahawa pemimpin yang berhak mendapat tsiqah ahli adalah pemimpin yang memiliki segala kemampuan sebagai seorang yang paling kuat, paling bertaqwa, paling memahami dan paling fasih dalam berbicara. Syarat seperti ini hampir sukar diperolehi, bahkan hampir tidak dapat dipenuhi setelah wafatnya Rasulullah SAW.

Cukuplah seorang pemimpin itu, merupakan seorang yang dianggap mampu oleh saudara-saudaranya untuk memikul amanah (kepemimpinan) yang berat ini. Kemudian apabila ada seorang ikhwah (saudara) yang merasakan bahawa dirinya atau mengetahui orang lain memiliki kemampuan dan bakat yang tidak dimiliki oleh pemimpinnya, maka hendaknya ia mendermakan kemampuan dan bakat tersebut untuk digunakan oleh pemimpin, agar dapat membantu tugas-tugas kepemimpinan. Bukan menjadi pesaing bagi pimpinan dan jamaahnya.

Saudaraku, mungkin engkau masih ingat dialog yang terjadi antara Abu Bakar ra. Dan Umar ra. Sepeninggal Rasulullah saw. Umar ra. Berkata: “Hulurkanlah tanganmu! Aku akan membaiahmu” Abu Bakar berkata: “Akulah yang membaiahmu” Umar berkata: “kamu lebih utama daripada aku” Abu Bakar berkata: “kamu lebih kuat daripada aku” Setelah itu, Umar berkata: “kekuatanku kupersembahkan untukmu karena keutamaanmu” Dan Umar ra. benar-benar menjadikan kekuatannya sebagai pendukung Abu Bakar ra.

Ketika seorang bertanya kepada Imam Syahid, “bagaimana bila suatu keadaan menghalangi kebersamaanmu dengan kami? Menurutmu siapakah orang yang akan kami lantik sebagai pemimpin kami?” Imam Syahid menjawab: “Wahai Ikhwan, lantiklah menjadi pemimpin orang yang paling lemah di antara kalian. Kemudian dengarlah dan taatilah ia. Dengan (bantuan) kalian, ia akan menjadi orang yang paling kuat di antara kalian”

Wahai Ikhwan, mungkin kalian masih ingat perselisihan yang terjadi antara Abu Bakar dan Umar dalam menghadapi orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat. Sebahagian besar sahabat berpendapat seperti pendapat Umar, iaitu tidak memerangi mereka. Namun demikian, ketika Umar mengetahui bahwa Abu Bakar bertegas untuk memerangi mereka, maka ia mengucapkan kata-katanya yang terkenal, yang menggambarkan ketsiqahan yang sempurna, “Demi Allah, tidak ada hal lain yang aku fahami kecuali Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi (mereka). Karena itu, aku tahu bahwa dialah yang benar”

Andai Umar ra. tidak memiliki ketsiqahan dan ketaatan yang sempurna, maka jiwanya dengan mudah akan dapat memperdayakannya. Memperdaya bahwa dialah yang benar, apalagi setelah dia mendengar Rasulullah saw bersabda, “Allah swt. telah menjadikan al-haq (kebenaran) pada lisan dan hati Umar”

Alangkah perlunya kita mencontohi sikap seperti Umar ra., di saat terjadi perbezaan pendapat di antara kita, terutama dalam keadaan di mana kita tidak pernah mendengar Rasulullah saw. memberikan pengesahan kepada salah seorang di antara kita, bahwa kebenaran itu pada lisan dan hatinya.

Menyedari betapa pentingnya ketsiqahan terhadap fikrah dan ketetapan pimpinan, maka musuh-musuh Islam berusaha sekuat tenaga untuk menimbulkan keraguan-keraguan pada Islam, jamaah, manhaj jamaah dan pimpinannya. Dan, betapa banyak serangan yang dilancarkan untuk misi tersebut.

Oleh karena itu, seorang aktivis jangan sampai terpengaruh oleh serangan-serangan tersebut. Ia harus yakin bahwa agamanya adalah agama yang hak, yang diterima Allah swt. Ia harus yakin bahwa Islam adalah manhaj yang sempurna bagi seluruh urusan dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Ia harus tetap tsiqah bahwa jamaahnya berada di jalan yang benar dan selalu merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah dalam setiap langkah dan tindakannya. Ia harus tetap tsiqah bahwa pimpinannya selalu bercermin pada langkah Rasulullah saw. serta para sahabatnya dan selalu tunduk pada syariat Allah dalam menangani persoalan yang muncul ketika melakukan aktiviti serta selalu mengutamakan kemaslahatan dakwah.

Apabila seorang aktivis mendengar sesuatu atau ragu-ragu tentang sesuatu, maka jangan dibiarkan ia berlarutan. Tetapi sebaiknya segeralah tabayun (re-check) terhadap hakikat yang sebenarnya, sehingga dadanya tetap bersih dari buruk sangka dan ketsiqahannya tetap terjaga. Dengan itu ia telah memenuhi seruan Allah swt. terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (Al-Hujarat:6)

Allah swt. menegur segolongan orang yang melakukan kesalahan dalam firman-Nya:

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)”. (An Nisa:83)

Kami ingin mengingatkan bahwa adakalanya sebahagian surat kabar atau media massa lainnya mengutip pembicaraan atau pendapat yang dilakukan oleh pimpinan jamaah, dengan tujuan untuk menimbulkan keragu-raguan, menggoncangkan kepercayaan, dan menciptakan ketidakstabilan di dalam susuk tubuh jamaah.

Oleh itu, seorang aktivis muslim tidak sewajarnya menyimpulkan suatu hukum berdasarkan apa yang dibaca di dalam media massa. Malah tidak boleh melunturkan tsiqah-nya dan tidak boleh menyebarkan atas dasar kebenaran. Sebaliknya ia harus melakukan tabayyun (re-check) terlebih dahulu.

Mengenai rukun tsiqah ini, Imam Syahid berkata: “Sesungguhnya, tsiqah kepada pimpinan merupakan segala-galanya bagi kejayaan dakwah. Oleh itu, aktivis yang tulus ikhlas harus mengutarakan beberapa pertanyaan berikut kepada diri sendiri, untuk mengetahui sejauh mana ketsiqahan dirinya kepada pimpinannya:

1. Sudahkah mengenal pemimpin dan mengamati seluruh kehidupannya?

2. Percayakah pada kemampuan dan keikhlasannya?

3. Sanggupkah menganggap seluruh perintah yang diberikan pemimpin untuknya –tentunya yang tidak berunsur maksiat- sebagai arahan yang mesti dilaksanakan tanpa curiga, tanpa ragu, tanpa mengurangi dan memberi komen dengan disertai nasihat untuk mencapai kebenaran?

4. Sanggupkah menganggap dirinya salah dan pemimpinnya benar, jika terjadi pertentangan antara sikap pemimpin dan apa yang ia ketahui dalam masalah-masalah ijtihadiyah yang tidak ada teks tegasnya di dalam syariat.

5. Sanggupkah meletakkan seluruh aktiviti kehidupannya dalam urusan dakwah? Apakah dalam pandangannya pemimpin berhak untuk men-tarjih (menimbang dan memutuskan yang terkuat) antara kepentingan pribadi dan kepentingan dakwah secara umum?

Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dan yang seumpamanya , aktivis yang tulus ikhlas dapat memastikan sejauh mana hubungan tsiqah/kepercayaan terhadap pemimpin. Namun, hati, ia berada dalam genggaman Allah. Dia yang menggerakkan hati sekehendak-Nya.

“Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Al-Anfal:63)

Mursyidul Am IM Mohamed Mahdi Akef adalah di antara tokoh yang berpengaruh dalam dunia Islam


Syeikh Mohammed Mahdi Akef, Mursyidul Am Ikhwan Muslimun telah diiktiraf sebagai salah seorang daripada 50 individu paling berpengaruh dalam dunia Arab dan Islam bersama-sama Khaled Meshaal dari Hamas dan Dr. Yusuf Al-Qaradawi, Presiden Kesatuan Ulamak Islam Antarabangsa (IUMS).

Isnin, November 23, 2009
Artikel Asal: http://ikhwanweb.com/article.php?id=21820

Syeikh Mohammed Mahdi Akef, Mursyidul Am Ikhwan Muslimun telah diiktiraf sebagai salah seorang daripada 50 individu paling berpengaruh dalam dunia Arab dan Islam. Di antara mereka yang termasuk dalam senarai ini adalah Khaled Meshaal dari Hamas dan Dr. Yusuf Al-Qaradawi, Presiden Kesatuan Ulamak Islam Antarabangsa (IUMS).

Fakta ini terdapat dalam sebuah buku baru terbit berjudul ‘THE 500 MOST INFLUENTIAL MUSLIM’ yang dilancarkan oleh “the Royal Islamic Strategic Studies Center” dan “The Prince Al-Waleed Bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding” di Universiti Georgetown, Amerika Syarikat. Hasil kajian dan analisa ke atas lebih daripada 500 tokoh berpengaruh dalam dunia Islam termasuk 50 tokoh Arab terkemuka, buku tersebut telah menyenaraikan nama-nama mereka sebagai 50 teratas dalam senarai 500 tokoh Islam paling berpengaruh.

“Pusat Persefahaman Muslim-Kristian Al-Waleed Bin Talal” adalah salah satu daripada pusat penyelidikan yang sangat berinovatif dan dinamik. Pusat ini memberi fokus kepada hal ehwal dunia Islam dan menjalin hubungan dengan pihak Barat beragama Kristian di samping melaksanakan kajian tentang cara-cara bagi merapatkan jurang di antara kedua-dua dunia tersebut.

Buku setebal 95 halaman itu yang ditulis dan diterbitkan oleh seorang intelek Amerika terkenal bernama Profesor John Esposito dengan kerjasama Profesor Ibrahim Kalin, memulakan kata bicara dengan membincangkan perkara-perkara mengenai orang-orang beragama Islam serta pengaruh mereka. Buku ini memuatkan beberapa kajian mengenai gerakan Islam; termasuk gerakan Ikhwan Muslimun dan Salafisme (atau Wahabisme) di Saudi Arabia. Kedua-dua penulis meyakini yang kedua-dua kumpulan itu mewakili Islam dalam perkara yang bersangkutan dengan hal ehwal politik dan kerohanian.
Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan tersenarai pada tangga ke-5 dan Dr Yusuf al-Qaradawi di tangga ke-9 manakala Mursyidul Am Ikhwan Muslimun di kedudukan ke-12. Aktivis Amr Khaled terletak pada tangga ke-14 manakala ulamak Saudi iaitu Dr. Salman Bin Fahd al-Awda berada di tangga ke-19, Syeikh Saeed Ramadan al-Bouti di lokasi ke-23 dan Presiden Turki Abdullah Gul pula di tangga ke-28. Timbalan Presiden Kesatuan Ulamak Islam Antarabangsa Abdullah bin Bayyah tersenarai di tangga ke-30 dan Khaled Meshaal, ketua Biro Politik Hamas di kedudukan tangga ke-34.

Syeikh Maulana Mahmoud Madani Jamat-e-Ulema-i-Hind di tangga ke-36, Pendakwah Amerika Hamza Yusuf, pengasas Institut Kajian Zaytuna di California, Amerika Syarikat di tangga ke-38, Syeikh Dr. Mustafa Ciric, Mufti Besar Bosnia-Herzegovina di tangga ke-39, manakala Datuk Hj Nik Abdul Aziz Nik Mat, Mursyidul Am Parti Islam Se-Malaysia di tangga ke-42.

Maulana Motiur Rahman Nizami, Ameer Jamaat-e-Islami (parti terbesar) Bangladesh di tangga ke-43 dan Dr. Abdulaziz Othman Altwaijri, Pengarah Besar Pertubuhan Pendidikan, Sains dan Kebudayaan Islam “ISESCO” di tangga ke-50.

Buku ini turut mencatatkan yang Mursyidul Am Ikhwan Muslimun Mohamed Mahdi Akef, telah berjaya meningkatkan prestasi gerakan itu, walaupun hanya memulakan tugasnya pada tahun 2004. Ikhwan juga disebut sebagai pembangkang politik terbesar di kebanyakan negara Arab. Menurut penilaian beliau, Esposito mendakwa, sejak menerajui Ikhwan Muslimun Akef telah mengepalai secara aktif parti Islam terbesar di Mesir, mengatur protes-protes massa mengutuk pendirian kerajaan tentang peperangan di Gaza, di samping menuntut kemaafan daripada Pope Vatican Benedict XVI kerana telah menghina Islam sewaktu lawatan Pope itu ke Jordan. Beliau menambah, "Akef telah memainkan peranan penting apabila berhadapan dengan kritikan yang meningkat terhadap ideologi and tindakan Ikhwan Muslimun, disebabkan pendirian gerakan itu menyokong usaha penentangan bersenjata di Palestin dan Lebanon. Dengan mengambil langkah pendirian yang ketara, Akef mengungguli dirinya dan Ikhwan Muslimun dalam menuntut perubahan perlembagaan di Mesir. Ikhwan Muslimun telah mengutuk secara terbuka akan pentadbiran Republikan mantan President Amerika Syarikat, George W. Bush mengenai isu “Inisiatif Besar Timur Tengah” dengan mengemukakan cadangan balas, berupa polisi-polisi dan reformasi ekonomi yang digagaskan oleh Ikhwan Muslimun pada tahun 2006. Gagasan itu telah diiktiraf di Mesir dan dunia Islam sebagai lebih berasas berbanding dengan cadangan Amerika Syarikat”.

Buku itu juga menggambarkan Ikhwan Muslimun sebagai parti pembangkang utama di serata negara-negara Islam dan mempunyai cawangan di kebanyakan dunia Islam, dengan beribu pejabat rasminya yang terletak di Mesir. Ahli-ahli pertubuhan itu terdapat di Bahrain, Syria, Palestin, Jordan, Iran, Iraq, Saudi Arabia, Kuwait, Algeria, Sudan, Somalia, Tunisia, Libya, dan Amerika Syarikat.

Wednesday, December 2, 2009

Fenomena Islam di Mesir


Selama dua puluh tahun kebelakangan ini, Mesir telah menyaksikan kemunculan fenomena Islam sejagat yang terserlah dalam pelbagai aspek kehidupan masyarakat Mesir.

Ahad, November 29, 2009

Oleh: Dia’a Rashwan.

Artikel Asal: Ikhwanweb http://www.ikhwanweb.com/article.php?id=21883

Selama dua puluh tahun kebelakangan ini, Mesir telah menyaksikan kemunculan fenomena Islam sejagat yang manifestasinya dapat dilihat dengan jelas dalam pelbagai aspek kehidupan masyarakat Mesir. Ia telah dijadikan bahan dalam pelbagai kajian dan rencana dengan menggunakan pelbagai istilah bagi memperihalkannya. Kelihatan ia seakan sinonim dengan fenomena Islam secara keseluruhan.


Trend Islam di Mesir sebenarnya tampak lebih luas dan rumit daripada takrifan ringkas ini. Ia merangkumi banyak fenomena cabang yang lain; tidak semestinya pula mempunyai sifat atau ciri yang sama. Ia berbeza dengan pergerakan-pergerakan Islam yang lain dari segi hubung kaitnya dengan politik.


Ia terdiri daripada empat sub-fenomena yang tidak melibatkan apa yang dirujuk sebagai persepsi kerajaan mengenai “Islam rasmi”; iaitu yang mewakili institusi-institusi utama milik negara beserta pengaruh besarnya dalam masyarakat. Al-Azhar berada di kedudukan paling terkedepan beserta kesemua fakulti dan institusinya di samping Kementerian Wakaf, yang terangkum dalamnya hal ehwal pentadbiran, puluhan ribu masjid di seluruh negara serta projek sosial dan ekonomi lain yang dimilikinya.


Sub-fenomena pertama boleh digelar sebagai “Islam sosial", dilihat sebagai sebahagian fenomena kebangkitan agama yang meledak di kebanyakan masyarakat Muslim di serata dunia termasuk Mesir pada suku abad terakhir ini. Ini bermakna fenomena itu telah menjadi trend umum dalam masyarakat Mesir, terutama di kalangan pelbagai kategori kelas pertengahan, juga segmen-segmen kelas rendah dan teratas. Masing-masing berlumba-lumba ke arah peningkatan pengabdian, akhlak dan agama. Kenyataan ini telah diperolehi hasil daripada kajian dan penerbitan meluas menyentuh fenomena ini pada tahun-tahun kebelakangan ini.


Dua ulasan utama berkaitan fenomena sosiologi berkaitan kebangkitan agama boleh diutarakan di sini: pertama, fenomena peningkatan sosiologi terhadap penghayatan agama ini tidak semestinya berhubung kait dengan wujudnya trend kecenderungan dan sokongan secara politik terhadap gerakan-gerakan politik Islam. Malah, ia tidak semesti membayangkan popularitinya di kalangan masyarakat Muslim.


Jelasnya, mereka yang mengamalkan ajaran seperti memakai purdah, mengerjakan solat di masjid atau memiliki dan membeli buku, pita atau CD agama tidak semestinya berminat dalam proses politik atau kepada kumpulan-kumpulan politik pro-Islam yang terkenal di Mesir seperti Ikhwan Muslimun.


Situasi kaitan kebanyakan penduduk Mesir dengan politik rata-ratanya adalah sama iaitu mereka tidak mencampurkan hal politik dengan agama.

Walau bagaimanapun, kadar kewarakan sosial tidak boleh diabaikan tetapi tidak pula boleh ditunjukkan dengan jelas. Sungguhpun begitu, terdapat kecenderungan pada umumnya bagi mengundi Ikhwan Muslimun dalam pilihan raya pelajar dan kesatuan pekerja kerana mereka lebih memberikan perhatian kepada kerja politik berbanding rakan sejawat mereka dari kalangan yang tidak ‘cenderung agama’ walaupun secara sosiologinya terdiri daripada kelas yang sama.


Pengamatan kedua membabitkan perilaku dan nilai sosial di kalangan kumpulan cenderung agama, adalah dalam hal bersangkutan dengan cara berpakaian. Walau bagaimanapun, ini tidak semestinya bermakna mereka konservatif dari segi sosial dan agama.

Berikut adalah penjelasan yang paling munasabah bagi pegangan kepada fenomena “keagamaan luaran” yang berkaitan dengan proses psikologi sosial yang kompleks termasuk (1) kecenderungan meniru apa yang dilihat ketara pada masyarakat yang disanjung nilainya dan (2) pola perilaku keagamaan. Pada aspek lain, ia merupakan halangan sosial bagi yang tidak mengamalkannya, yang menganggapnya sebagai manifestasi keagamaan yang tersasar dan ketidakterbukaan sosial dan perilaku konservatif di kalangan mereka yang mengamalkannya.


Keduanya, sub-fenomena sufi yang bermula sejak kurun ke-3 H yang diwakilkan pada hari ini sekurang-kurangnya oleh Gerakan Sufi. Ini terdiri daripada 74 bilangan kumpulan dan sub-pergerakan rasmi, diiktiraf oleh undang-undang serta melibatkan keahlian seramai 10 juta.


Tarikat dan aktiviti sufi Mesir tertakluk di bawah undang-undang Bil 118 tahun 1976, dan hal ehwalnya diurus oleh Majlis Tertinggi Tarikat Sufi. Ahli-ahlinya terdiri daripada sepuluh ahli terpilih syeikh sufi, lima ahli ex-officio terlantik yang mewakili Al-Azhar, Kementerian Waqaf, Kerajaan Tempatan, Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Kebudayaan.


Fenomena hubungan tasawuf Mesir dengan politik dalam dekad-dekad terakhir tampaknya sangat kompleks dan tidak menuju ke arah tertentu. Di satu sudut, fahaman mistik menyelubungi mereka yang menginginkan selain daripada kepentingan duniawi dan tenggelam dalam usaha memahami “kebenaran”. Mereka mentakrifkan diri mereka sebagai “manusia” yang berbeza daripada “manusia hukum" yang mementingkan fenomena urusan duniawi khususnya dalam aspek politik.


Dalam suasana politik pada masa sekarang, terutamanya pilihan raya yang semakin hampir, Tarikat Sufi Mesir turut terlibat dengan menunjukkan sokongan mereka kepada parti pemerintah. Hal ini adalah suatu tradisi yang kelihatan tetap dalam kehidupan politik Mesir sejak revolusi tahun 1952 dan 1960-an. Pihak pemerintah turut campur tangan dalam susunan Sufi bagi mempergunakan populariti mereka yang besar di saat-saat kritikal seperti itu; demi untuk mengukuhkan legitimasi kerajaan Mesir dan beberapa polisi utama mereka.


Salafisme adalah cabang fenomena Islam Mesir yang ketiga. Ia adalah fenomena sosial dan keagamaan konservatif yang menolak sepenuhnya penglibatan dalam politik. Individu mereka terutamanya, mahukan pembaharuan keagamaan dan kepatuhan terhadap semua yang ditinggalkan oleh leluhur yang soleh dan memerangi apa sahaja yang dilihat sebagai inovasi (bid'ah) yang bertentangan dengan risalah sejati Islam. Salafisme adalah suatu fenomena keagamaan lama di Mesir yang telah lama wujud sejak awal abad ke-20. Ia memiliki institusi-institusi besar yang terbentuk dalam masyarakat seperti Al-Jam`iyyah As-Shar`iyyah - mentadbir manusia dengan Kitab (Al-Quran) dan Sunnah, yang ditubuhkan pada tahun 1912 atau Jama'at Ansar al-Sunnah al-Muhammadiyah yang ditubuhkan pada tahun 1926. Hari ini, ia mempunyai ratusan cawangan dan puluhan ribu masjid serta projek-projek sosial dan agama di pelbagai wilayah Mesir, di samping memiliki prinsip-prinsip murni Salafi yang terkenal.


Pelbagai persatuan dan kumpulan Salafi di Mesir, baik pada masa lalu atau sekarang, sentiasa menjauhkan diri daripada amalan politik. Mereka tidak menubuhkan sebarang organisasi berdasarkan kriteria politik. Mereka yang menganggotai gerakan Salafi, sama ada lelaki atau perempuan beriltizam dengan amalan-amalan ketat berdasarkan apa yang mereka yakini sebagai Sunnah (Sunnah muakada) yang diperintahkan oleh Nabi (saw) yang tidak boleh ditinggalkan.


Satu perkara yang tidak disangkal lagi adalah dalam beberapa tahun lepas, Mesir telah menyaksikan pertambahan pengaruh Salafisme. Jelas jika dilihat dengan tersebar luasnya gadis berjubah dan berpurdah serta perawakan berjanggut bagi laki-laki atau meningkatnya jumlah masjid milik ahli Salafi serta peningkatan jumlah pendakwah Salafi, baik di masjid-masjid mahupun di saluran TV.


Salafisme kini mempengaruhi segmen besar di Mesir, namun mereka tetap menjarakkan diri dari kegiatan politik tradisional. Meskipun begitu, mereka berpegang secara teorinya kepada «Islam Agama dan Negara». Menurut mereka, rejim pemerintah yang tidak melaksanakan hukum Tuhan adalah «rejim kafir».

Beberapa individu dan kumpulan kecil yang tidak berpengaruh telah muncul sepanjang lima tahun bebelakangan di kalangan kaum muda yang berkecenderungan Salafi. Mereka mendekati banyak pemikiran Salafi jihad yang disebarkan oleh al-Qaeda dan rakan kongsinya di kalangan kebanyakan masyarakat Muslim dan komuniti Muslim di Barat. Kecenderungan mereka kepada pengaruh baru itu tidak bermaksud mereka meninggalkan amalan-amalan umum Salafisme.


Kelompok-kelompok kecil ini boleh dibedakan mengikut beberapa ciri utama. Pertama: sumber utama idea-idea baru mereka diperolehi melalui internet, sekarang ini termasuk bekalan senjata besar berupa buku Salafi jihadi. Kedua: tidak seorang pun daripada mereka telah beralih daripada keyakinan intelektual mereka kepada kegiatan jihad Salafi itu disebabkan oleh samada kekurangan pengalaman ataupun dasar keselamatan yang ketat.


Akhirnya ialah cabang fenomena keempat iaitu gerakan-gerakan Islam yang paling terkenal. Mereka bersatu dalam mengiktiraf Islam serta aspek-aspek dan pentafsirannya sebagai landasan kepada kewujudan dan penentuan matlamat mereka. Mereka bergiat menggunakan pelbagai cara bagi menegakkan Islam seperti yang mereka fahamkan dalam masyarakat, negara dan lokaliti mereka. Kumpulan-kumpulan ini mungkin berlainan pandangan dalam cabang-cabang kefahaman dalam aspek intelektual, politik dan peraturan sosial Islam serta prinsip-prinsipnya. Begitu juga mereka mungkin berbeza pendapat dalam mentafsirkan sebahagian peraturan dan asas. Namun, mereka terus tekun dan beriltizam serta yakin dengan Islam sebagai landasan mereka dan mereka sentiasa mencari jalan yang berbeda bagi menegakkannya.


Terdapat banyak gerakan Islam di Mesir, tetapi majoriti terbesar sekarang ini terdiri dari kategori kumpulan sosio-politik yang berpegang kepada kaedah dan pendekatan secara aman serta menolak keganasan dalam gerakan sosial dan politik mereka. Kategori kumpulan yang dimaksudkan diketuai dipelopori oleh Ikhwan Muslimun.

Beberapa abad terdahulu, Mesir menyaksikan sebilangan kumpulan Islam militan dan ganas, yang bergantung kepada senjata sebagai satu-satunya cara bagi menegakkan fahaman mereka terhadap tuntutan politik Islam. Kesemuanya bergantung kepada pemikiran dan tanggapan masing-masing. Mereka kini menjadi semakin hampir pada dasar Ikhwan Muslimun iaitu pendekatan secara aman dalam menangani arus perubahan agama dan politik.


Sebenarnya, mereka tidaklah mewakili kumpulan yang besar dalam masyarakat meskipun diberikan liputan politik dan media yang luas sewaktu membincangkan fenomena gerakan Islam di Mesir. Malah, bilangan ahli bersekutu mereka tidak melebihi daripada beberapa ratus ribu.

Ustaz Ali an-Nukman Kembali ke Rahmatullah



Hari ini, Rabu 2/12/2009 bersamaan 15/12/1430, qafilah dakwah kehilangan seorang lagi mujahid dari kalangan generasi pertama yang seangkatan dengan pengasas Ikhwan Muslimin, asy-Syahid Hasan al-Banna. Beliau adalah Ustaz Ali an-Nukman, teman rapat asy-Syahid yang juga merupakan pemandu peribadi beliau.

Ustaz Ali adalah antara mujahid terulung yang pernah berjihad di bumi Palestin demi mempertahankannya dari serangan zionis. Beliau telah menulis beberapa buah buku yang mengisahkan kepahlawanan Ikhwan di dalam jihad mereka mempertahankan bumi Palestin.

Menurut al-Mursyid yang hadir mengiringi jenazah beliau, Ustaz Ali adalah seorang akh muslim yang wajar dijadikan contoh oleh ikhwan hari ini.


Solat jenazah telah disempurnakan selepas solat zohor tengahari tadi di masjid Asad bin al-Furat di Duqi, Giza dihadiri oleh al-Mursyid dan teman-teman dari kalangan ikhwan pelbagai peringkat.

Semoga Allah s.w.t. mencucuri rahmat dan keampunan-Nya yang maha lebat ke atas ruhnya, ditempatkannya di dalam syurga-Nya yang amat luas, dan menerima segala perjuangan dan sumbangannya di jalan dakwah ini sebagai amal soleh yang memberatkan timbangannya.

Demikian doa ikhlas yang dipohon oleh al-Mursyid untuknya.

Marilah kita sama-sama mengaminkannya.

Mesir: Walaupun ketika Hari Raya, kezaliman pihak berkuasa keselamatan terserlah



Artikel Asal: http://ikhwanweb.com/article.php?id=21897
Selasa, I Disember, 2009 17:54

Kaherah: Hari itu adalah hari cuti di seluruh Mesir. Hari di mana kebiasaannya rakyat melupakan kerja dan menggunakan hari ini untuk melawat keluarga dan solat berjamaah bersama-sama.


Aidil
Adha merupakan antara salah satu keadaan yang sukar diperolehi di mana jalan-jalan Mesir akan menjadi tenang dan jauh dari kesesakan dan sibuk – gambaran sebuah negara yang masih hidup dan sejahtera. Namun, bagi sebahagian rakyat Mesir, cuti hari raya bukanlah sesuatu yang dapat diraikan lantaran pihak berkuasa keselamatan negara yang bertindak kejam terhadap individu yang berani mempertahankan pendirian.

Bagi seorang gadis Mesir, mempertahankan hak adik lelakinya berakhir dengan sesuatu yag tidak baik. Menurut laporan berkecuali daripada Pentadbiran Sharqeya di wilayah Delta Utara, gadis tersebut, yang namanya tidak diumumkan kepada media, telah ditahan oleh pihak keselamatan ketika dalam perjalanannya untuk solat di stadium. Polis menuntut supaya adik lelakinya menanggalkan serban Palestin yang dipakainya kerana kononnya ia menggambarkan seorang rakyat Palestin.

Apabila gadis tersebut membantah mengatakan yang adiknya kesejukan dan memerlukan serban itu untuk memanaskan badannya, polis terus menangkap si gadis dan membawanya ke balai polis berdekatan. Menurut peguam berkaitan kes ini, gadis tersebut dipercayai masih berada di bawah tahanan dan dijangka akan dihadapkan ke muka pengadilan selepas cuti perayaan ini.

Kumpulan hak asasi dan Ikhwanul Muslimin telah menuduh kerajaan berusaha menyekat kebebasan bersuara dan kebebasan beragama dengan memaksa anak muda untuk menanggalkan serban.


Abdel Abdel Moneim Maksoud, peguam ternama Ikhwanul Muslimin, berkata bahawa serangan "biadap" terhadap kebebasan rakyat Mesir sebegini adalah petanda bahawa Negara tidak semakin baik. Dia meminta kumpulan hak asasi agar memaklumi bahawa kerajaan "tidak boleh terus menggunakan tindakan begini terhadap rakyatnya, terutama ketika mereka hanya ingin bersolat bersama ribuan yang lain."

Penangkapan itu berlaku selepas kementerian dalam negeri menafikan adanya usaha menghalang ahli keluarga dari melawat penjara semasa cuti raya. Namun, Ikhwanul Muslimin melaporkan bahawa sekurang-kurangnya 30 keluarga telah dilarang melawat kerabat mereka yang ketika ini dipenjarakan. Mereka mengatakan bahawa beberapa keluarga di Suez telah berusaha mendapatkan perintah mahkamah untuk membenarkan mereka melawat ahli keluarga mereka ketika musim perayaan ini, namun kerajaan, tanpa mendengar hujah pembela telah menolak permintaan mereka.

"Keluarga daripada 33 tahanan Ikhwanul Muslimin di Suez berhadapan dengan gangguan dari pihak berkuasa keselamatan negara" ketika mereka cuba untuk melawat keluarga mereka. Minggu lepas, kementerian mengeluarkan kenyataan yang mengatakan bahwa keluarga tidak akan dihalang melawat ahli keluarga mereka yang ditahan di penjara, tetapi kenyataannya, keluarga-keluarga ini hanya dapat menghabiskan cuti perayaan mereka bersendirian.

Tuesday, December 1, 2009

Risalah Mursyid: Selamatkanlah Bahtera Manusia


Dari Ikhwan Online

Risalah dari: Muhammad Mahdi Akif – Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, 20-11-2009
http://www.ikhwanonline.com/Article.asp?ArtID=56416&SecID=213

Segala puji hanya milik Allah, selawat dan salam ditujukan kepada utusan paling mulia, Nabi yang membawa petunjuk yang bersifat al-amin, beserta keluarganya dan seluruh sahabatnya… adapun selanjutnya ..


Allah berfirman dalam kitab-Nya:

“Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (Al-Isra:70)
Namun, ketika kita merenungkan situasi abad ke dua puluh ini, sebagai jawapan atas perintah Allah kepada kita, untuk berjalan di bumi, untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di alam buana ini, mengambil isyarat dan pelajaran darinya, bagi mempersiapkan diri menuju hari kebangkitan yang tidak ada keraguan di dalamnya; dan bagi para pemerhati lainnya nescaya akan menemukan keadaan kemanusiaan dengan gambaran yang pilu dan mencemaskan; nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat tangan-tangan manusia yang tidak bertanggungjawab.

Bahkan situasi yang mencemaskan lainnya juga banyak terjadi seperti adanya perang; akibat adanya sengketa dan perbezaan yang sedikit, dan senjata adalah `bahasa komunikasi’ digunakan antara manusia sebagai alternative…Ingatlah Allah telah memberikan garis-garis dan norma-norma untuk saling memberikan makna kerjasama, tolong menolong dan interaksi sebagaimana yang telah diserukan oleh Allah yang menjadi dasar utama dalam menjalin hubungan antara sesama manusia .. Allah berfirman:

“Hai manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan berpuak-puak agar kamu dapat saling mengenal, sesungguhnya yang paling mulia diantara kmu adalah yang paling bertaqwa”. (Al-Hujurat: 13)


Namun nilai-nilai kemanusiaan ini telah jauh dari fitrahnya yang bersih seperti yang telah Allah anugerahkan kepada manusia, bahkan nilai-nilai ini sebagaimana persaudaraan manusia yang memiliki asal-usul dan keturunan yang sama menjadi makna yang telah ditinggalkan dan nilai-nilai yang telah lenyap dan hilang dalam kehidupan manusia sejagat; dimana manusia saat ini tidak memiliki hak dalam mempertahankan martabatnya – atau bahkan untuk mempertahankan hidup – ditengah saudaranya sesama manusia.


Padahal misi dari “nilai kemanusiaan” di sini adalah sebahagian dari kaedah interaksi anak cucu Adam (manusia) yang merupakan dasar yang telah ditetapkan Allah dan sebagai peraturan yang telah ditetapkan oleh Allah dalam rangka melaksanakan tujuan penciptaan manusia iaitu sebagai khalifah di muka bumi ini dan menegakkan Syari’ah Allah di dalamnya, serta melaksanakannya dengan baik dalam rangka mencapai tujuan-tujuan Ilahi yang agung ini..


”Ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat: Aku akan menciptakan di muka bumi ini seorang Khalifah” (Al-Baqarah:30).


Oleh karena itu, manusia memiliki kedudukan dan posisi yang sangat mulia dalam agama Islam yang suci ini; karena syariat dan ketentuan-ketentuannya hadir untuk memberikan kesejahteraan, memberikan jaminan ke atas hak-hak mereka, memperbaiki keadaan hidup mereka serta memberikan kemudahan dalam melaksanaan berbagai urusan hidup mereka, kerana Allah telah memberikan segala sesuatu kepada manusia di dunia ini, Allah berfirman:


“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (Nya)”. (An-Nahl:12)


Allah juga berfirman:


“Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”. (Al-Hajj:65)


Sebagaimana Allah menjadikan lima Maqasid Syariah seperti agama, jiwa, akal, keturunan dan harta adalah sebagai alat untuk melindungi kehidupannya dan kehormatannya.


Dan di antara bukti Allah dalam memuliakan manusia adalah bahwa Allah telah menciptakannya dalam bentuk yang sempurna..


“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

(At-Tiin:4)

Sebagaimana Allah juga memberikan kemuliaan kepada manusia pada saat memiliki ikatan yang erat kepada Zat yang paling agung dan tinggi, ketika Allah menciptakannya dengan tangannya sendiri, meniupkan ruh di dalamnya, dan menjadikan kekufuran sebagai akibat ketiadaan penghormatan dan pengagungan terhadap jati diri manusia itu sendiri…seperti firman Allah:


“(ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: “Sesungguhnya aku akan menciptakan manusia dari tanah”. Maka apabila telah Ku sempurnakan kejadiannya dan Ku tiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadaNya”. lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya, kecuali Iblis; Dia menyombongkan diri dan adalah Dia Termasuk orang-orang yang kafir”. (Shaad:71-74)


Dan di antara buah dari nilai-nilai dan prinsip yang mulia ini adalah lahirnya prinsip persaudaraan antara sesama manusia, bahawa manusia sama darjat dalam hukum syariat Islam, yang memiliki kesatuan asal-usul dan keturunan; Adam dan Hawa .. Allah berfirman:


“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (An-Nisa:1)


Al-Quran dan Sunnah nabawiyah juga penuh dengan ungkapan yang dimulai dengan kata-kata seruan: “Hai Manusia” dan Nabi Muhammad saw diutus untuk seluruh manusia dan membawa rahmat bagi sekalian alam .. Dia bersabda: “Aku diutus untuk semua orang” .. sebagaimana Allah juga berfirman:


” Dan Kami tidak mengutusmu kecuali membawa rahmat bagi seluruh alam” (Al-Anbiya:107)

Dalam Islam kita tidak diperintahkan untuk menyeru manusia kepada Allah dan syariatnya-Nya dengan cara kekuatan dan kekerasan serta paksaan; namun dengan hikmah dan nasihat yang baik. Ini kerana Islam tidak hanya sebagai agama toleransi, namun juga memberikan penghormatan terhadap kemuliaan manusia dan akalnya, bagitu juga penghormatan dan persamaan di antara semua manusia; yang telah digariskan oleh Allah yang Maha Mulia dan Agung dan menegaskan hubungan langsung antara Allah dan para hamba-Nya, tidak ada penghalang antara Allah dan manusia.

Nilai-nilai apakah yang mereka serukan?!


Demikianlah nilai-nilai Islam, yang telah menguasai dunia selama lebih dari seribu tahun, di dalamnya terdapat khalifah Islam sebagai satu-satunya mercu kegemilangan Islam di seluruh dunia; baik ilmu pengetahuan, etika, undang-undang, dan akal. Pada sisi inilah Ibnu Rusydi mengikuti imam Syafi’i, dan Ibn al-Haytham membuat nilai kejuruteraan empangan Aswan, dan Harun Al-Rasyid mengikuti laju awan di atas langit agar dapat memberikan hasil baik seperti yang diperintahkan oleh Allah. Sementara saat itu, Barat masih hidup di gua-gua, suasana yang primitif dan berlaku hukum rimba dalam kehidupan mereka.


Dan ketika muncul apa yang dikenali sebagai zaman Renaisanse dan Pencerahan pada abad pertengahan di Eropa, barulah Barat mulai mengambil dan memanfaatkan peradaban, ilmu pengetahuan dan pemikiran Islam. Dan masyarakat dunia menyangka bahawa dunia ketika berada di tangan Barat akan memberikan kedamaian dan kesepakatan yang erat, dan akan memimpin kepada nilai-nilai akal dan jiwa secara bersamaan. Namun apa yang terjadi tidaklah demikian seperti yang diharapkan. Bahawa “peradaban” Barat mempraktikkan banyak undang-undang yang bertentangan dengan sifat dan fitrah manusia yang bersih, bertentangan pula dengan nilai-nilai yang telah ditetapkan oleh Allah dalam melaksanakan berbagai urusan hamba-Nya di muka bumi ini.


Sebagaimana nilai-nilai yang diterapkan hanya berfokus pada keuntungan material, bahkan hal tersebut dijadikan sebagai asas dan nilaian hukum yang mengatur segala urusan, sehingga tersebarnya kerusakan dan keruntuhan moral, dan menyebabkan segala kemudahan yang ada di hadapan manusia berorientasi pada kepentingan diri dan material.


Demikianlah logik dasar yang di terapkan oleh orang-orang Eropa dan Amerika dalam misi penjajahan kolonialnya selama enam abad terakhir dalam sejarah manusia, mereka merampas kekayaan “bangsa mundur”, bahkan mereka menjual rakyatnya ke dalam perhambaan .. sehingga ratusan juta jiwa yang dimuliakan Allah dijadikan hamba untuk bekerja dalam pertanian dan industri “peradaban Barat”, kemudian meninggal dan tidak ada seorang pun mengetahui dan mendengar rimbanya dasar hidup barat.


Lalu peperangan pun meletus sehingga menambah tingkat kemunduran dunia selain Barat setelah selama berabad-abad di dominasi oleh penjajahan kolonialisme. Lalu muncul bangsa-bangsa dan negara yang tidak memahami arti keamanan, tidak mengenal peradaban sebagai kemudahan, terutama setelah dipaksa kepada mereka kebergantungan kepada barat, sehingga dapat dijadikan sebagai pasaran untuk produk pertanian, perindustrian dan penternakan barat. Bagitu pula pergerakan wang makro yang diciptakan oleh orang-orang Yahudi terutama pada abad ketujuh belas di Amerika; digunakan hanya untuk melindungi wang mereka, dan memberikan jaminan pada bangsa dan negara akan tersedianya pasaran pada produk perindustrian dan penternakan “peradaban” Barat sebagai bahan asal.


Dan hal ini dijadikan alat untuk melakukan kawalan dan menguasai nilai-nilai material dan pragmatisme, serta menjauhkan manusia dari agama Allah yang suci; itu semua menjadi sebab utama membentuk suasana dan mengembalikan manusia pada hukum rimba dan perhambaan yang telah lama diperjuangkan oleh Islam untuk disingkirkan, kembali bermaharajalela dan istilah-istilah seperti persaudaraan manusia dan semangat bantu-membantu jauh api dari panggang, bahkan kamus hubungan antara masyarakat manusia tidaklah banyak ditemukan.


Akhirnya tanah yang hitam dan api yang panas menjadi membara terutama ketika bertemu tujuan dan kepentingan Barat dengan kapitalisme liar, yang dipimpin oleh Amerika Syarikat, dan diikuti oleh misi dan visi projek Zionis menguasai dunia Arab dan dunia Islam; sehingga darah pun mengalir dengan deras di bumi tersebut, dan muncul para pelarian dan warga yang terusir yang mendominasi berita tentang umat Islam yang ditundukkan oleh kekuatan-kekuatan ganas antarabangsa, kerakusan pemimpin dan korupsi warganya.

Keperluan manusia kepada juru penyelamat

Sekarang, pada situasi yang penuh dengan kehancuran dan kebinasaan manusia yang dipimpin oleh Barat, dan di tengah adanya pertumpahan darah, kemiskinan dan kelaparan yang membanjiri majoriti dunia akibat nilai-nilai kekejian dan keganasan Barat, menyebabkan umat manusia memerlukan adanya penerapan kebijakan dalam rangka melakukan penyelamatan secara cepat, melestarikan kehidupan manusia, melindungi harta dan kehormatannya, bahkan menyelamatkan apa yang dapat dilakukan untuk melindungi kehormatannya, menjunjung tinggi nilai-nilai kerjasama dan persaudaraan daripada hanya mementingkan keuntungan material dan kepentingan diri yang sempit belaka.


Sepanjang perjalanan sejarah umat manusia, mereka tidak mengenal adanya dakwah atau agama seperti Islam, yang dapat menyelamatkan dunia dari kemunduran, dan apa yang kita katakan dalam proses penghormatan Islam kepada manusia dan menjunjung tinggi jati dirinya; bukanlah sekadar jaguh atau hasrat emosional, namun merupakan pengalaman sejarah dengan segala makna dan aplikasi yang nyata sebagai negara terbesar sepanjang sejarah dunia dan umat manusia.


Nabi kita sebagai utusan untuk seluruh manusia, nabi Muhammad saw telah meletakkan asas
persaudaraan, kesamaan dan keadilan dalam aqidah Tauhid, seperti yang telah disampaikan oleh Allah dalam hadits qudsi-Nya ia berkata:


“Wahai manusia, ketahuilah bahwa Tuhanmu adalah satu, Bapa adalah satu, ketahuilah tidak ada yang lebih utama antara Arab dan bukan-Arab dan juga antara bukan Arab dan Arab, atau yang berkulit merah dengan yang hitam, dan warna hitam dengan yang merah kecuali Taqwa”(Ahmad).


Dalam Khutbah Haji Wada’, kita menemukan bahwa nabi saw menetapkan peraturan hubungan manusia yang sangat agung dan mulia, memberikan haknya, martabatnya dan kesuciannya serta kebersihannya dari segala apa yang dimilikinya, beliau bersabda:

“Hai manusia dengarkanlah ucapakanku, karena aku tidak tahu apakah bertemu lagi dengan kalian pada tahun-tahun yang akan datang selamanya, wahai manusia, ketahuilah bahwa harta dan darah kalian adalah haram (suci) sehingga kalian bertemu Allah sebagai sucinya hari kalian ini, sucinya bulan kalian ini, dan sesungguhnya kalian berjumpa dengan Allah dan akan diminta pertanggungjawaban, dan kalian akan ditanya tentang perbuatan kalian dan aku telah menyampaikan, maka barangsiapa yang memiliki amanah maka tunaikanlah kepada orang yang diamanai atasnya”. (Ibnu Ishaq).

Agama kita adalah agama yang penuh dengan moral dan nilai-nilai yang berusaha melindungi kehormatan manusia, seperti yang disabdakan oleh nabi saw:


“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”

Inilah nabi kita .. dan Inilah agama kita.

Bahkan bukan perilaku nabi Muhammad saw saja, namun Islam adalah ibarat sebuah madrasah rabbaniyah yang mampu mencorakkan kehidupan umat Islam setelahnya, demikianlah Amirul Mukminin Umar Bin Al Khattab ra yang mampu meletakkan batu bata pertama dalam sistem kesejahteraan sosial, yang merupakan manifestasi tertinggi peradaban manusia; dengan memberikan perhatian kepada anak-anak, orang tua dan orang yang kurang upaya, tidak ada perbedaan dalam hal ini antara Muslim dan bukan Muslim di negara Islam.


Demikian pula terdapat salah satu graduan madrasah nabi saw, Umar, yang telah menguasai dunia, pernah pada suatu hari berkeliling pasar melihat orang yang sudah tua meminta-minta wang sedekah, lalu beliau berkata kepadanya: siapakah anda wahai orang tua?, Dan orang tersebut berasal dari Yahudi kota Madinah, lalu dia berkata kepadanya: “Aku adalah orang yang sudah tua, aku meminta upti dan nafkah” mendengar ungkapan orang tua tersebut Umar berkata kepadanya: “Tidak selayaknya engkau mengalami seperti ini wahai orang tua, kami telah mengambil jizyah (upti) dari kamu pada saat muda, lalu kami telantarkan pada saat sudah tua”. Lalu beliau (Umar) memimpin tangannya menuju rumahnya dan memberikan kepadanya makanan, kemudian membawanya ke Baitulmal dan memerintahkan kepada penjaganya dengan berkata: “Berikan kepada orang tua ini wang yang dapat mencukupi keperluannya dan keluarganya”.


Dari Umar kita juga belajar bahwa Islam adalah agama rahmat dan keadilan terutama dalam pemerintahan antara pemimpin dan yang dipimpin, Beliau sering menangis setiap kali solat subuh kerana teringat tangisan seorang anak kecil yang dipaksa oleh ibunya supaya senyap dan tidur dalam kelaparan; kerana itu bagi mengelakkan manusia untuk tidak memaksa anak-anak mereka tidur dalam kelaparan maka mereka akan diberikan bahagian kepada anak yang baru lahir bahagiannya.


Contoh ini sangatlah banyak dan tak terhitung jumlahnya .. demikianlah Islam kita, yang menebarkan kasih sayang walaupun kepada seekor binatang sekalipun, “pada setiap pemilik hati yang basah juga ada ganjarannya”, agama keadilan akan menceritakan bagaimana salah seorang warga Qibti Mesir mendapatkan keadilannya terhadap perbuatan anak dari Amru bin Al-Aas seorang gabenor Mesir pada saat itu.. Agama yang pada saat ini cuba dinodai dan dikotori oleh musuh, diberikan gambaran yang buruk dan ganas, sementara tengkorak anak-anak dan orang tua di Gaza, Palestine, Iraq, Afghanistan, dan Lebanon telah menjadi saksi akan hampanya “rahmat” tatapan dunia baru!.


Wahai umat Islam ..


Wahai orang-orang yang beriman dengan agama dimana saja anda berada ketahuilah bahawa amanah yang anda junjung saat ini sangatlah berat… sehingga kepada kita semua untuk tetap berada dalam posisinya .. seorang da’i.. politikus .. guru .. wartawan .. mahasiswa, jurutera dan petani .. hendaknya melihat kembali posisi mereka, kembali kepada agama yang benar, mengembalikan produktiviti Islam seperti yang turunkan oleh Allah .. sebagai cara hidup sempurna .. bukan sekadar keyakinan..bukan sekadar ibadah ..bukan sekadar interaksi .. namun keseluruhannya ..terapkanlah Islam saat ini juga.


Wahai umat manusia ..


Berimanlah kepada Allah, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya dan Hari Akhirat .. perbaikilah dan berbuat baiklah kepada sesama manusia… wahai anak bangsa dan umat Islam perbaikilah hubungan antara kamu dan orang tua kamu.. perbaikilah antara keluarga kamu dan saudara kamu, karena melakukan perbaikan antara sesama manusia adalah ibadah yang mulia dan agung…tunaikanlah amanah… dan berhukumlah dengan cara yang adil…

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat”.
(An-Nisa:58)


Bersungguh-sungguhlah dalam pekerjaan kamu .. kerana


“Sesungguhnya Allah sangat mencintai seseorang yang jika bekerja dilakukan dengan cara yang paling baik (professional)” (Hadits shahih)

Kerana yang demikian bukan sekadar memberikan kesejahteraan terhadap satu kaum saja, namun juga perbaikan, kesejahteraan serta keselamatan umat manusia secara keseluruhan sehingga mampu menghilangkan keinginan dan niat yang buruk dan jahat.

Wahai hamba-hamba Allah ingatlah firman Allah:


“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (An-Nahl:90)

Dan akhir dari seruan kami adalah Maha Suci Allah, dan segala puji hanya milik Allah semata.
 

My Blog List

FIKRAH & DAKWAH Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template